Saat ini kita seringkali disajikan berita atau paparan resmi dari pemeluk kebijakan, bahwa perekonomian kita saat ini digambarkan cukup solid. Angka pertumbuhan ekonomi terjaga, inflasi diklaim terkendali, dan berbagai program bantuan, mulai dari Makan Bergizi Gratis, Bantuan Langsung Tunai, dan berbagai bantuan insetif lainnya. Secara teori dan di atas kertas, seolah semuanya berjalan sesuai rencana.
Namun, mari kita coba melangkah keluar rumah dan memperhatikan lingkungan sekitar dengan seksama. Sesekali, duduklah di warung kopi, sapa pedagang di pasar tradisional, atau perhatikan struk belanja harian istri Anda. Mungkin akan muncul dalam benak Anda, jika statistik mengatakan ekonomi baik-baik saja, mengapa dompet terasa makin cepat kempis?
Inilah fenomena yang belakangan ini kerap dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kondisi yang kontras tajam antara data makro dengan realitas mikro. Fenomena ini dapat diilustrasikan sebagai berikut.
1. Statistik bilang "Inflasi Rendah", Realitas bilang "Semua Naik"
Angin surga yang sering kita dengar dari pengumuman yang diberikan oleh pemeluk kebijakan bahwa tingkat inflasi berada di angka yang relatif rendah dan stabil. Bisa jadi di atas kertas, kenaikan harga terlihat sangat wajar. Namun, ditingkat tapak, yang dirasakan konsumen bukan sekedar angka persentase.
Nominal uang Rp100.000 yang beberapa waktu lalu bisa membawa pulang kantong plastik penuh bahan pokok, namun kini hanya cukup untuk beberapa item utama saja. Harga barang bisa jadi tidak naik secara signifikan, tetapi ukurannya menyusut. Kemasan minya ekonomi goreng, sabun, hingga takaran porsi makanan siap saji diam-diam berkurang. Secara statistik harganya stabil, tetapi secara daya beli, nilai uang kita sejatinya menurun.
2. Lapangan kerja ada, tapi kualitasnya berbeda
Laporan ketenagakerjaan kerap mencatat penurunan angka pengangguran terbuka. Secara angka, lebih banyak orang yang terdata bekerja. Namun, pertanyaan mendasar adalah pekerjaan yang seperti apa?
Banyak pekerja yang terdampak pengurangan tenaga kerja formal akhirnya beralih ke sektor informal, semisal menjadi penegmudi ojek online, pedagang eceran dadakan, atau pekerja lepas (freelance) dengan penghasilan yang tak menentu. Mereka memang terdata bekerja dan tidak menganggur, tetapi tingkat kepastian pendapatan, jaminan kesehatan, dan daya beli mereka jauh menurun dibandingkan saat mereke berada di sektor formal. Angka statistik mencatat keberhasilan penyerapan tenaga kerja, tetapi dapur rumah tangga mencatat perjuangan semakin berat.
3. Insentif makro berbanding beban harian rumah tangga
Berbagai kebijakan pendorong ekonomi mulai dari kemudahan investasi hingga pembangunan infrastruktur diharapkan memberikan efek trickle-down (menetes ke bawah). Sayangnya, dampak tersebut butuh waktu panjang untuk sampai ke masyarakat bawah. Sementara itu, beban harian bersifat instan dan tidak bisa ditunda, semisal: tagihan listrik dan air tetap berjalan setiap bulan, biaya pendidikan dan kesehatan terus menyesuaikan tingkat harga baru, serta pajak dan retribusi harian tetap harus dibayar tepat waktu.
Masyarakat tidak hidup di dalam angka Produk Domestik Bruto (PDB), namun masyarakat hidup dalam arus kas harian. Ketika kebijakan difokuskan pada agregat besar, hal-hal kecil seperti selisih harga beras Rp1.000 per kilogram jauh lebih menentukan apakah sebuah keluarga bisa menabung atau harus mengutang di akhir bulan.
Catatan di Tepi Cangkir
Mengkritik atau merasakan perbedaan ini bukan berarti menutup mata terhadap usaha perbaikan yang dilakukan pemerintah. Kebijakan publik dirancang dengan skala besar dan kompleks. Namun, artikel ini menjadi pengingat sederhana, bahwa ekonomi yang sehat bukanlah ekonomi yang hanya terlihat bagus di dalam grafik presentasi, melainkan ekonomi yang terasa lapang di kantong rakyatnya.
Selama ada jeda yang lebar antara apa yang diumumkan di mimbar resmi dan apa yang di rasakan saat membayar belanjaan di pasar, selama itu pula masyarakat akan terus bertanya-tanya: Sebenarnya, ekonomi siapa yang sedang membaik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar